TUGAS INDIVIDU
KENAKALAN
REMAJA
![]() |
|||||
![]() |
![]() |
||||
Disusun
oleh:
Yustika
Ratih Dewi .K.
Kelas X-L
SMA NEGERI 4 JAYAPURA

BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa remaja sering dikenal dengan istilah masa
pemberontakan. Pada masa-masa ini, seorang anak yang baru mengalami pubertas
seringkali menampilkan beragam gejolak emosi, menarik diri dari keluarga, serta
mengalami banyak masalah, baik di rumah, sekolah, atau di lingkungan
pertemanannya.
Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang
sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Freesex, dan terlibat
banyak tindakan kriminal lainnya. Fakta ini sudah tidak dapat diungkuri lagi,
anda dapat melihat brutalnya remaja jaman sekarang. Meningkatnya tingkat kriminal di Indonesia
tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, tetapi banyak juga dari kalangan para
remaja. Tindakan kenakalan remaja sangat beranekaragam dan bervariasi dan lebih
terbatas jika dibandingkan tindakan kriminal orang dewasa. Juga motivasi para
remaja sering lebih sederhana dan mudah dipahami misalnya : pencurian yang
dilakukan oleh seorang remaja, hanya untuk memberikan hadiah kepada mereka yang
disukainya dengan maksud untuk membuat kesan impresif yang baik atau
mengagumkan.
Akibatnya, para orangtua mengeluhkan perilaku anak-anaknya
yang tidak dapat diatur, bahkan terkadang bertindak melawan mereka. Konflik
keluarga, mood swing, depresi, dan munculnya tindakan berisiko sangat umum
terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa-masa lain di sepanjang rentang
kehidupan.
1.2 Rumusan
Masalah
a. Apa pengertian remaja?
b. Bagaimana perkembangan psikologi remaja?
c. Apa macam-macam kenakalan remaja ?
d. Apa penyebab kenakalan remaja?
e . Bagaimana solusi
untuk mengatasi kenakalan remaja?
1.3 Tujuan
Pembahasan
a. Mengetahui pengertian remaja dan ciri cirinya
b. Mengetahui perkembangan psikologi remaja pada saat ini
c. Mengetahui macam-macam kenakalan remaja
d. Mengetahui penyebab kenakalan remaja
e. Mengetahui solusi untuk mengatasi kenakalan remaja.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Remaja
Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari
anak-anak menuju dewasa. Remaja merupakan masa
peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun
sampai 21 tahun.
Menurut
psikologi, remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal
anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga
12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula
pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang
dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual
seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara.
Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol
(pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak
menghabiskan waktu di luar keluarga.
Remaja
memiliki tempat di antara anak-anak dan orang tua karena sudah tidak termasuk golongan anak
tetapi belum juga berada dalam golongan dewasa atau tua. Seperti yang
dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan
dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh
status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.
Hal
senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa remaja (adolescene) diartikan
sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang
mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Batasan usia
remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun.
Rentang waktu usia
remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu :
a. 12-15 tahun
b. Masa remaja awal 15-18
tahun
c. Masa remaja pertengahan
18-21 tahun
d. Masa remaja akhir.
2.2
Ciri- Ciri Remaja
Mengenai ciri-ciri remaja tidak mesti dilihat dari satu
sisi, tetapi dapat dilihat dari berbagai segi. Misalnya dari segi usia,
perkembangan fisik, phisikis, dan perilaku. Menurut Gayo (1990: 638-639)
ciri-ciri remaja usianya berkisar 12-20 tahun yang dibagi dalam tiga fase
yaitu; Adolensi diri, adolensi menengah, dan adolensi akhir. Penjelasan ketiga
fase ini sebagai berikut.
a. Adolensi dini
Fase ini berarti preokupasi seksual yang meninggi yang tidak
jarang menurunkan daya kreatif/ ketekunan, mulai renggang dengan orang tuanya
dan membentuk kelompok kawan atau sahabat karib, tinggah laku kurang dapat
dipertanggungjawabkan. Seperti perilaku di luar kebiasaan, delikuen,dan
maniakal atau defresif.
b. Adolensi menengah
Fase ini memiliki umum: Hubungan dengan kawan dari lawan
jenis mulai meningkat pentingnya, fantasi dan fanatisme terhadap berbagai
aliran, misalnya, mistik, musik, dan lain-lain. Menduduki tempat yang kuat
dalam perioritasnya, politik dan kebudayaan mulai menyita perhatiannya sehingga
kritik…..tidak jarang dilontarkan kepada keluarga dan masyarakat yang dianggap
salah dan tidak benar, seksualitas mulai tampak dalam ruang atau skala identifikasi,
dan desploritas lebih terarah untuk meminta bantuan.
c.
Adolesensi akhir
Masa ini remaja mulai lebih luas, mantap, dari dewasa dalam
ruang lingkup penghayatannya .Ia lebih bersifat ‘menerima’dan ‘mengerti’
malahan sudah mulai menghargai sikap orang/pihak lain yang mungkin sebelumnya
ditolak. Memiliki karier tertentu dan sikap kedudukan, kultural, politik,
maupun etikanya lebih mendekati orang tuanya. Bila kondisinya kurang
menguntungkan, maka masa turut diperpanjang dengan konsekuensi .imitasi, bosan,
dan merosot tahap kesulitan jiwanya. Memerlukan bimbingan dengan baik dan
bijaksana, dari orang-orang di sekitarnya.
Argumen lain tentang ciri-ciri remaja dan berbagai sudut
pandang dikemukakan oleh Mustaqim dan Abdul Wahid (1991:49-50). Menurutnya pada
masa remaja umumnya telah duduk dalam bangku sekolah lanjutan. Pada permulaan
periode anak mengalami perubahan-perubahan jasmani yang berwujud tanda-tanda
kelamin sekunder seperti kumis, jenggot, atau suara berubah pada laki-laki.
Lengan dan kaki mengalami pertumbuhan yang cepat sekali sehingga anak-anak
menjadi canggung dan kaku. Kelenjar-kelenjar mulai tumbuh yang dapat
menimbulkan gangguan phisikis anak.
Perubahan rohani juga
timbul remaja telah mulai berfikir abstrak, ingatan logis makin lama makin
lemah. Pertumbuhan fungsi-fungsi psikis yang satu dengan yang lain tidak dalam
keadaan seimbang akibatnya anak sering mengalami pertentangan batin dan
gangguan, yang biasa disebut gangguan integrasi. Kehidupan sosial anak remaja
juga berkembang sangat luas. Akibatnya anak berusaha melepaskan diri
darikekangan orang tua untuk mendapatkan kebebasan, meskipun di sisi lain masih
tergantung pada orang tua. Dengan demikian terjadi pertentangan antara hasrat
kebebasan dan perasaan tergantung.(Mustaqim dan Abdul Wahid, 1991:50).
Lebih lanjut dikatakan Mustaqim dan Abdul Wahid, pada masa
remaja akhir umumnya telah mulai menemukan nilai-nilai hidup, cinta,
persahabatan, agama, kesusilaan, kebenaran dan kebaikan. Masa ini biasa disebut
masa pembentukan dan menentuan nilai dan cita-cita.Lain dari pada itu anak
mulai berfikir tentang tanggung jawab sosial, agama moral, anak mulai
berpandangan realistik, mulai mengarahkan perhatian pada teman hidupnya kelak,
kematangan jasmani dan rohani, memiliki keyakinan dan pendirian yang tetap
serta berusaha mengabdikan diri dimasyarakat juga ciri remaja yang menonjol,
tetapi hanya remaja yang sudah hampir masuk dewasa.
Sedangkan
menurut Hurlock (1999) ciri-ciri masa remaja adalah sebagai berikut:
a. Masa remaja sebagai periode yang
penting, karena perkembangan fisik, mental yang cepat dan penting dan adanya
penyesuaian mental dan pembentukan sikap, nilai dan minat baru.
b.
Masa
remaja sebagai periode peralihan, adanya suatu perubahan sikap dan perilaku dari anak-anak ke menuju dewasa.
c. Masa remaja sebagai periode perubahan, karena
ada 5 perubahan yang bersifat universal yaitu perubahan emosi, tubuh, minat dan
pola perilaku, dan perubahan nilai.
d. Masa remaja sebagai usia bermasalah, karena
pada masa kanak-kanak masalah-masalahnya sebagian besar diselesikan oleh guru
dan orang tua sehingga kebanyakan remaja kurang berpengalaman dalam mengatasi
masalah.
e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas,
karena remaja berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa peranannya.
f.
Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, karena adanya anggapan
stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapih, yang tidak
dapat dipercaya dan cenderung merusak, menyebabkan orang dewasa harus
membimbing dan mengawasi.
g.
Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik. Karena remaja melihat dirinya
sendiri dan orang lain sebagaimana yang diinginkan dan bukan sebagaimana adanya
terlebih dalam cita-cita.
h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa, karena
remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan orang
dewasa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat di ambil kesimpulan bahwa
ciri ciri masa remaja adalah merupakan periode yang penting, periode perubahan,
peralihan, usia yang bermasalah, pencarian identitas, usia yang menimbulkan
ketakutan, masa yang tidak realistik dan ambang masa kedewasaan.
2.3 Psikologi Remaja
Ciri perkembangan psikologis
remaja adalah adanya emosi yang meledak-ledak, sulit dikendalikan, cepat
depresi (sedih, putus asa) dan kemudian melawan dan memberontak. Emosi tidak
terkendali ini disebabkan oleh konflik peran yang senang dialami remaja. Oleh
karena itu, perkembangan psikologis ini ditekankan pada keadaan emosi remaja.
Keadaan emosi pada masa
remaja masih labil karena erat dengan keadaan hormon. Suatu saat remaja dapat
sedih sekali, dilain waktu dapat marah sekali. Emosi remaja lebih kuat dan
lebih menguasai diri sendiri daripada pikiran yang realistis. Kestabilan emosi
remaja dikarenakan tuntutan orang tua dan masyarakat yang akhirnya mendorong
remaja untuk menyesuaikan diri dengan situasi dirinnya yang baru. Hal tersebut
hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Hurlock (1990), yang mengatakan bahwa
kecerdasan emosi akan mempengaruhi cara penyesuaian pribadi dan sosial remaja.
Bertambahnya ketegangan emosional yang disebabkan remaja harus membuat
penyesuaian terhadap harapan masyarakat yang berlainan dengan dirinya.
Menurut Mappiare (dalam
Hurlock, 1990) remaja mulai bersikap kritis dan tidak mau begitu saja menerima
pendapat dan perintah orang lain, remaja menanyakan alasan mengapa sesuatu
perintah dianjurkan atau dilarag, remaja tidak mudah diyakinkan tanpa jalan
pemikiran yang logis. Dengan perkembangan psikologis pada remaja, terjadi
kekuatan mental, peningkatan kemampuan daya fikir, kemampuan mengingat dan
memahami, serta terjadi peningkatan keberanian dalam mengemukakan pendapat.
2.4 Kenakalan Remaja
Kenakalan
remaja (juvenile delinquency) adalah
suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang
dilakukan pada usia remaja atau transisi masa anak-anak dan dewasa.
Sedangkan Pengertian kenakalan remaja Menurut
Paul Moedikdo,SH adalah :
a. Semua
perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak
merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti
mencuri, menganiaya dan sebagainya.
b. Semua
perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran
dalam masyarakat.
c. Semua
perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Faktor
pemicunya, menurut sosiolog Kartono, antara lain adalah gagalnya remaja
melewati masa transisinya, dari anak kecil menjadi dewasa, dan juga karena
lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh dunia luar yang kurang baik.
Akibatnya,
para orangtua mengeluhkan perilaku anak-anaknya yang tidak dapat diatur, bahkan
terkadang bertindak melawan mereka. Konflik keluarga, mood swing, depresi, dan
munculnya tindakan berisiko sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan
pada masa-masa lain di sepanjang rentang kehidupan.
Perilaku
yang ditampilkan dapat bermacam-macam, mulai dari kenakalan ringan seperti
membolos sekolah, melanggar peraturan-peraturan sekolah, melanggar jam malam
yang orangtua berikan, hingga kenakalan berat seperti vandalisme, perkelahian
antar geng, penggunaan obat-obat terlarang, dan sebagainya.
Dalam
batasan hukum, menurut Philip Rice dan Gale Dolgin, penulis buku The
Adolescence, terdapat
dua kategori pelanggaran yang dilakukan remaja, yaitu:
a. Pelanggaran indeks, yaitu munculnya tindak kriminal
yang dilakukan oleh anak remaja. Perilaku yang termasuk di antaranya adalah
pencurian, penyerangan, perkosaan, dan pembunuhan.
b. Pelanggaran status, di antaranya adalah kabur dari
rumah, membolos sekolah,
minum minuman beralkohol di bawah umur, perilaku seksual,
dan perilaku yang tidak mengikuti peraturan sekolah atau orang tua.
2.5 Penyebab Kenakalan Remaja
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal)
maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:
a.
Krisis
identitas: Perubahan
biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk
integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam
kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja
terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
b.
Kontrol
diri yang lemah: Remaja
yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima
dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun
bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun
tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan
pengetahuannya.
Faktor eksternal:
a. Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya
komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga
bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga
pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau
penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan
remaja.
b. Teman sebaya yang kurang baik
c. Komunitas/lingkungan tempat tinggal
yang kurang baik.
Sedangkan
menurut Kumpfer dan Alvarado, Faktor faktor Penyebab kenakalan remaja
antara lain :
a.
Kurangnya
sosialisasi dari orangtua ke anak mengenai nilai-nilai moral dan sosial.
b.
Contoh
perilaku yang ditampilkan orangtua (modeling) di rumah terhadap perilaku dan
nilai-nilai anti-sosial.
c.
Kurangnya
pengawasan terhadap anak (baik aktivitas, pertemanan di sekolah ataupun di luar
sekolah, dan lainnya).
d.
Kurangnya
disiplin yang diterapkan orangtua pada anak.
e.
Rendahnya
kualitas hubungan orangtua-anak.
f.
Tingginya
konflik dan perilaku agresif yang terjadi dalam lingkungan keluarga.
g.
Kemiskinan
dan kekerasan dalam lingkungan keluarga.
h.
Anak
tinggal jauh dari orangtua dan tidak ada pengawasan dari figur otoritas lain.
i.
Perbedaan
budaya tempat tinggal anak, misalnya pindah ke kota lain atau lingkungan baru.
j.
Adanya
saudara kandung atau tiri yang menggunakan obat-obat terlarang atau melakukan
kenakalan remaja.
2.6
Peranan Keluarga terhadap Kenakalan Remaja
Sarwono (1998) mengatakan
bahwa keluarga merupakan lingkungan primer pada setiap individu. Sebelum anak
mengenal lingkungan yang luas, ia terlebih dahulu mengenal lingkungan
keluarganya. karena itu sebelum anak anak mengenal norma-norma dan nilai-nilai
masyarakat, pertama kali anak akan menyerap norma-norma dan nilai-nilai yang
berlaku di keluarganya untuk dijadikan bagian dari kepribadiannya.
Orang tua berperan penting
dalam emosi remaja, baik yang memberi efek positif maupun negative. Hal ini menunjukkan
bahwa orang tua masih merupakan lingkungan yang sangat penting bagi remaja.
Menurut Mu’tadin (2002)
remaja sering mengalami dilema yang sangat besar antara mengikuti kehendak
orang tua atau mengikuti kehendaknya sendiri. Situasi ini dikenal dengan
ambivalensi dan hal ini akan menimbulkan konflik pada diri remaja. Konflik ini
akan mempengaruhi remaja dalam usahanya untuk mandiri, sehingga sering
menimbulkan hambatan dalam penyesuaian
diri terhadap lingkungan sekitarnya, bahkan
dalam beberapa kasus tidak jarang remaja menjadi frustasi dan memendam
kemarahan yang mendalam kepada orang tuanya dan orang lain disekitarnya.
Frustasi dan kemarahan tersebut seringkali di ungkapkan dengan perilaku
perilaku yang tidak simpatik terhadap orang tua maupun orang lain yang dapat
membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain disekitarnya.
Penilitian yang dilakukan
BKKBN pada umunya masalah antara orang tua dan anaknya bukan hal hal yang
mendalam seperti maslah ekonomi, agama, social, politik, tetapi hal yang sepele
seperti tugas-tugas di rumah tangga, pakaian dan penampilan.
Menurut Nalland (1998) ada
beberapa sikap yang harus dimiliki orangtua terhadap anaknya pada saat memesuki
usia remaja, yakni :
a.
Orang tua perlu lebih fleksibel dalam
bertindak dan berbicara
b.
Kemandirian anak diajarkan secara bertahap
dengan mempertimbangkan dan melindungi mereka dari resiko yang mungkin terjadi
karena cara berfikir yang belum matang. Kebebasan yang dilakukan remaja terlalu
dini akan memudahkan remaja terperangkap dalam pergaulan buruk, obat-obatan
terlarang, aktifitas seksual yang tidak bertanggung jawab dll
c.
Remaja perlu diberi kesempatan melakukan
eksplorasi positif yang memungkinkan mereka mendapat pengalaman dan teman baru,
mempelajari berbagai keterampilan yang sulit dan memperoleh pengalaman yang
memberikan tantangan agar mereka dapat berkembang dalam berbagai aspek
kepribadiannya.
d.
Sikap orang tua yang tepat adalah sikap yang
authoritative, yaitu dapat bersikap hangat, menerima, memberikan aturan dan
norma serta nilai-nilai secara jelas dan bijaksana. Menyediakan waktu untuk
mendengar, menjelaskan, berunding dan bisa memberikan dukungan pada pendapat
anak yang benar.
2.7
Pergaulan Remaja
Pergaulan merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh
individu dengan individu, dapat juga oleh individu dengan kelompok.
Seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa manusia
sebagai makhluk sosial (zoon-politicon), yang artinya manusia sebagai makhluk
sosial yang tak lepas dari kebersamaan dengan manusia lain. Pergaulan mempunyai
pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian seorang individu. Pergaulan
yang ia lakukan itu akan mencerminkan kepribadiannya, baik pergaulan yang
positif maupun pergaulan yang negatif. Pergaulan yang positif itu dapat berupa
kerjasama antar individu atau kelompok guna melakukan hal – hal yang positif.
Sedangkan pergaulan yang negatif itu lebih mengarah ke pergaulan bebas, hal
itulah yang harus dihindari, terutama bagi remaja yang masih mencari jati
dirinya. Dalam usia remaja ini biasanya seorang sangat labil, mudah terpengaruh
terhadap bujukan dan bahkan dia ingin mencoba sesuatu yang baru yang mungkin
dia belum tahu apakah itu baik atau tidak. Pergaulan remaja berupa tekanan teman bahkan sahabat, yang bias disebut
dengan rasa solidaritas, ingin diterima, dan sebagai pelarian, benar-benar
ampuh untuk mencuatkan kenakalan remaja yaitu perilaku menyimpang yang
dilakukan oleh remaja.
2.8 Remaja dan Lingkungan Sosial
Lingkungan social meliputi teman sebaya, masyarakat dan
sekolah. Sekolah mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi remaja, karena
selain dirumah sekolah adalah lingkungan kedua dimana remaja banyak melakukan
berbagai aktifitas dan interaksi social dengan teman-temannya.
Masalah yang dialami remaja yang bersekolah lebih besar
dibandingkan yang tidak bersekolah. Hubungan dengan guru dan teman-teman di
sekolah, mata pelajaran yang berat menimbulkan konflik yang cukup besar bagi remaja. Pengaruh guru juga
sanagt besar bagi perkembangan remaja, karena guru adalah orang tua bagi remaja
ketika mereka berada disekolah.
Pada masa remaja, hubungan social memiliki peran yang sangat
penting bagi remaja. Remaja mulai memperluas pergaulan sosialnya dengan teman
teman sebayanya. Remaja lebih sering berada diluar rumah bersama teman teman
sebayanya, karena itu dapat dimengerti bahwa pengaruh teman-teman sebayanya
pada sikap, minat, penampilan dan perilaku lebih besar daripada pengaruh orang
tua.
Brown (1997) menggambarkan empat cara khusus, bagaimana
terjadinya perubahan kelompok teman sebaya dari masa kanak-kanak ke masa remaja
:
a. Remaja lebih banyak menghabiskan
waktu dengan teman sebaya dibandingkan pada anak-anak. Pada usia 12 tahun,
remaja awal mulai menjauhkan diri dari orang dewasa dan mendekatkan diri dengan
teman sebaya.
b. Remaja berusaha menghindari pengawasan
yang ketat dari orang tua dan guru dan ingin mendapatkan kebebasan. Mereka
mencari tempat untuk bertemu dimana mereka tidak terlalu diawasi. Meskipun
dirumah mereka ingin mendapatkan privasi dan tempat dimana mereka dapat
mengobrol dengan teman temannya tanpa didengar oleh keluarganya.
c. Remaja mulai banyak berinteraksi
dengan teman sebaya dari jenis kelamin yang berbeda. Walaupun anak perempuan
dan laki laki berpartisipasi dalam kegiatan dan berkelompok persahabatan yang
berbeda selama masa pertengahan kanak-kanak, tetapi pada masa remaja interaksi
dengan remaja yang berbeda jenis semakin meningkat, sejalan dengan semakin
menjauhnya remaja dengan orang tua mereka.
d. Selama masa remaja, kelompok teman
sebaya menjadi lebih memahami nilai-nilai dan perilaku dari sub-budaya remaja
yang lebih besar. Mereka juga mengidentifikasikan diri dalam kelompok pergaulan
tertentu.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ilmu27.blogspot.com/2012/08/makalah-kenakalan-remaja.htm